Just another WordPress.com site

babakan sejarah

MENGENAL METODE SEJARAH

9 Votes
Sejarah adalah salah satu cabang dari ilmu sosial yang sangat ter¬buka kepada hal yang bersifat amatiran. Hal tersebut tergam¬bar dari suatu pendapat yang menyatakan bahwa semua orang mampu menulis sejarah. Konse-kuensi dari pendapat tersebut adalah banyaknya tulisan tentang sejarah yang kurang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kadangkala sulit dibeda¬kan antara yang dongeng, mitos, legenda, dan sejenisnya dengan fakta sejarah. Sekarang tulisan-tulisan seperti itu tidak dapat di¬pertahankan lagi.
Sejarah seha¬rusnya ditulis oleh orang yang mempunyai kompetensi di bi¬dang kesejarahan (baca : sejara¬wan) yang diharapkan mampu meneliti dan menulis dengan se¬mangat kritis yang tinggi, dalam arti sejak pengumpulan data atau sumber sejarah (yang biasa disebut heuristik) sampai kepada tahap penulisannya (historio¬grafi), harus dilakukan serang¬kaian kritik sehingga dapat diha¬silkan suatu tulisan sejarah yang didasarkan atas fakta-fakta yang benar-benar teruji dan da¬pat diandalkan. Untuk menca¬painya sejarah harus ditulis melalui prosedur yang disebut Me¬tode Sejarah. Metode ini mempunyai empat tahapan yang integral, yakni Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi.
Tulisan ini tidaklah dimak¬sudkan untuk membahas empat tahapan tersebut secara menyeluruh dan mendalam dan tidak pula dimaksudkan untuk mem¬berikan suatu jaminan bahwa suatu peristiwa sejarah dapat di¬tuangkan ke dalam suatu tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang penting di sini adalah memberikan peng¬ertian tentang dasar-dasar me¬tode tersebut yang mungkin ber¬manfaat terutama bagi kandidat ahli ilmu sejarah atau peminat sejarah. Dan, penggunaan me¬tode sejarah itu sendiri sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dimana penelitian dan penulisan sejarah itu sendiri ber¬langsung.
Heuristik
Heuristik adalah kegiatan ber¬upa penghimpunan jejak-jejak masa lampau, yakni peninggalan sejarah atau sumber apa saja yang dapat dijadikan informasi dalam pengeritian studi sejarah.
Louis Gottchalk (1975) telah memilah heuristik, sebagai berikut, pertama: memilih memilih subjek. Dalam memilih subjek, heuristik harus merujuk kepada empat pertanyaan pokok, yakni : dimana, siapa, bilamana, dan apa. Pertanyaan tersebut berke¬naan dengan aspek geografis, biografis, kronologis, fungsio¬nal atau okupasional. Dari pertanyaan pokok itulah ber¬bagai keharusan konseptual dilakukan dan berbagai pro¬ses pengerjaan penelitian dan penulisan dijalani. Perta¬nyaan tersebut berfungsi un¬tuk menentukan penting atau tidaknya suatu peristiwa dite¬liti. Juga sebagai alat untuk menentukan hal-hal mana yang bisa dijadikan “fakta se¬jarah”. Pendek kata fokus yang bersitat interogatif terse¬but akan menuntun sejara¬wan kepada subjek, sehingga terhindar dari fokus yang yang ngawur atau tidak perlu.
Kedua, informasi tentang subjek, yang dapat dapat diperoleh dari berbagai macam sumber, yakni: (1) Rekaman sezaman yang ter¬diri dari instruksi atau perintah, rekaman stenografis dan fonografis, surat niaga dan hukum, serta buku catatan pribadi dan memorandum prive; (2) Laporan konfiden¬sial yang terdiri berita resmi militer dan diplomatik, jurnal atau buku harian, dan surat-surat pribadi; (3) Laporan-la¬poran umum yang terdiri dari laporan dan berita surat ka¬bar, memoar dan otobiografi, sejarah “resmi” suatu in¬stansi, perusahaan dan seje¬nisnya. (4) Quesionaris tertu¬lis; (5) Dokumen pemerintah dan kompilasi, terdiri dari ri¬salah instansi pemerintah, undang-undang dan per¬aturan; (6) Pernyataan opini, terdiri tajuk rencana, esei, pi¬dato, brosur, surat kepada re¬daksi, dan sejenisnya; (7) Fiksi, nyanyian, dan puisi; (8) Folklore, nama tempat, dan pepatah.
Delapan sumber informasi ter¬sebut bukanlah sumber sejarah dalam arti sebenarnya. Artinya ia hanya sebagai sarana untuk mencari keterangan tentang sub¬jek. Sedangkan sumber sejarah itu sendiri adalah hasil yang di¬peroleh dari pencarian informasi tersebut yang nantinya diguna¬kan dalam penulisan sejarah se¬telah melalui tahapan pengujian.
Tentang sumber sejarah, Nu¬groho Notosusanto (1978:36) telah mengklasifikasikannya ke dalam tiga bentuk yang seder¬hana yakni: (1) Sumber benda; menyangkut benda-benda arkeologis, efigrafi, numistik, dan benda sejenis lainnya; (2) Sum¬ber tertulis, terdiri dari buku-buku dan dokumen; (3) Sumber lisan, terdiri dari hasil wawan¬cara dan tradisi lisan (oral tradi¬tion).
Hasil pengerjaan studi sejarah yang akademis atau kritis memerlukan fakta-fakta yang telah teruji. Oleh karena itu data-data yang diperoleh melalui tahapan heuristik terlebih dahulu harus dikritik atau disaring sehingga diperoleh fakta-fakta yang seobjektif mung¬kin. Kritik tersebut berupa kritik tentang otentitasnya (kritik ekstern) maupun kredibilitas isinya (kritik intern), dilakukan ketika dan sesudah pengumpulan data berlangsung
Ada beberapa teknik pengum¬pulan data yang dapat dipergunakan dalam metode se¬jarah, seperti: studi kepusta-kaan, pengamatan lapangan, wa¬wancara (interview). Dapat pula digunakan teknik lain seperti questionnaires, pendekatan te¬matis (topical approach) beserta berbagai perangkat ilmu bantu lainnya, terutama digunakan ter-hadap topik yang mengarah ke¬pada studi kasus (case study).
Kritik
Hasil pengerjaan studi sejarah yang akademis atau kritis me¬merlukan fakta-fakta yang telah teruji. Oleh karena itu, data-data yang diperoleh melalui tahapan heuristik terlebih dahulu harus dikritik atau disaring sehingga diperoleh fakta-fakta yang sob¬jektif mungkin. Kritik tersebut berupa kritik tentang otentitas¬nya (kritik ekstern) maupun kre¬dibilitas isinya (kritik intern), di¬lakukan ketika dan sesudah pengumpulan data berlangsung.
Kritik ekstern terhadap sum¬ber lisan kalau memang meng¬gunakan teknik wawancara dilakukan terhadap para informan yang akan diwawancarai. In¬forman harus memiliki kemampuan untuk memberikan kete¬rangan yang sebenarnya. Hal itu dapat dilihat dari keterlibatan¬nya atas suatu peristiwa, serta tingkat keintelektualannya. Ca-ranya antara lain dengan jalan meminta keterangan kepada para informan tentang keterli¬batan informan lainnya atas peristiwa tersebut.
Faktor usia juga menentukan dan sedapat mung¬kin diperlukan informan yang se¬zaman dan pernah berkiprah pada peristiwa yang diteliti. Se¬dangkan kritik intern terhadap sumber lisan dapat dilakukan dengan jalan membandingkan beberapa hasil wawancara an¬tara informan yang satu dengan yang lainnya, yang juga diban-dingkan dengan sumber sejarah lainnya. Perbandingan itu perlu dilakukan terutama terhadap versi cerita yang berbeda-beda tentang sesuatu peristiwa. Sema¬kin banyak versi cerita semakin mudah untuk memperoleh fakta yang sebenarnya. Tentang hal ini ada baiknya dibaca pengalaman Anton Lucas dalam Koentjaraningrat dan Donald K. Emerson, editor (1982) yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh para kandidat ahli atau peminat sejarah.
Kritik ekstern terhadap sum¬ber tertulis perlu dilakukan agar tidak terperangkap kepada doku¬men palsu. Oleh karena itu perlu dipertanyakan tentang otentik atau tidak sejatinya suatu sumber. Juga perlu diketahui ten¬tang asli dan utuhnya sumber-sumber. Kalau sebuah dokumen tidak lagi utuh atau cacat, seo¬rang sejarawan harus mengada¬kan restorasi teks agar doku¬men tersebut kembali utuh da¬lam arti isi yang terkandung dapat diterima secara ilmiah. Untuk itu diperlukan berbagai ilmu bantu sejarah yang dapat memberikan penjelasan yang lo¬gis atas dokumen tersebut, se¬perti arkeologi, filologi, dan se¬bagainya.
Masalah anakronistis suatu sumber perlu juga diketa¬hui. Masalah ini berkenaan de¬ngan apakah materi sumber; tu-lisan, tanda tangan, materai, cap atau stempel, serta langgam dan peristiwa yang terekam di dalam dokumen tersebut cocok dengan zamannya. Kalau tidak cocok, berarti dokumen tersebut anakronistis dan tidak bisa diguna-kan sebagai fakta sejarah.
Kritik intern terhadap sumber tertulis terutama dilakukan de¬ngan jalan melihat kompetensi, atau kehadiran pengarang terha¬dap waktu atau peristiwa. Ke¬pentingan pengarang, sikap berat sebelah serta motif peng¬arang, juga sangat perlu untuk diketahui guna menentukan kre¬dibilitas isi tulisan. Sedangkan terhadap sumber tertulis berupa dokumen, dilakukan dengan me¬lihat segi semantik, hermeneu¬tik, dan pemahaman terhadap historical mindedness.
Masa¬lah semantik (arti kata) berke¬naan dengan kemampuan me¬mahami secara tepat tentang arti sebuah kata, istilah, maupun konsep yang ada dalam sebuah dokumen. Dan, masalah herme¬neutik berkenaan dengan peng-halusan suatu kata atau istilah sehingga mengaburkan arti yang sebenarnya. Sedangkan masalah historical mindedness berkenaan dengan kemampuan memahami hal-hal kesejarahan dengan jalan “meluluhkan” jiwa dan pi¬kiran sesuai dengan kondisi ke¬sejarahan, dan tidak mengguna¬kan ukuran sekarang untuk “mengukur” masa lampau terse¬but. Oleh karena itu, kadangkala diperlukan pengetahuan dan penghayatan kultural tentang si¬tuasi dan kondisi dimana dokumen tersebut dibuat.
Interpretasi
Data atau sumber sejarah yang dikritik akan menghasilkan fakta yang akan digunakan dalam penulisan sejarah. Namun demikian, sejarah itu sendiri bu¬kanlah kumpulan dari fakta, parade tokoh, kronologis peristiwa, atau deskripsi belaka yang apa¬bila dibaca akan terasa kering karena kurang mempunyai makna.
Fakta-fakta sejarah ha¬rus diinterpretasikan atau ditaf¬sirkan agar sesuatu peristiwa da¬pat direkonstruksikan dengan baik, yakni dengan jalan menye¬leksi, menyusun, mengurangi te¬kanan, dan menempatkan fakta dalam urutan kausal. Dengan demikian, tidak hanya perta¬nyaan dimana, siapa, bilamana, dan apa yang perlu dijawab, te¬tapi juga yang berkenaan dengan kata mengapa dan apa jadinya.
Dalam interpretasi, seorang se¬jarawan tidak perlu terkungkung oleh batas-batas kerja bidang sejarah semata, sebab sebenarnya kerja sejarah melingkupi se¬gala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk mema¬hami kompleksitas sesuatu per¬istiwa, maka mau tidak mau se¬jarah memerlukan pendekatan multidimensi. Dengan demikian, berbagai ilmu bantu perlu diper¬gunakan dengan tujuan mem¬pertajam “pisau analisis” se¬hingga diharapkan dapat dipero¬leh generalisasi ke tingkat yang lebih sempuma.
Perlu pula dikemukakan di¬ sini, bahwa dalam tahapan interpretasi inilah subjektifitas seja¬rawan bermula dan turut mewarnai tulisannya dan hal itu tak dapat dihindarkan. Walau demikian, seorang sejarawan ha¬rus berusaha sedapat mungkin menekan subjektifitasnya dan tahu posisi dirinya sehingga nantinya tidak membias ke dalam isi tulisannya.
Historiografi
Historiografi adalah penyajian hasil interpretasi fakta dalam bentuk tulisan. Dapat dikatakan historiografi sebagai puncak dari rangkaian kerja seorang sejara¬wan, dan dari tahapan inilah da¬pat diketahui “baik buruknya” hasil kerja secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam penulisan diperlukan kemampuan menyu¬sun fakta-fakta yang bersifat fragmentaris ke dalam tulisan yang sistematis, utuh, dan ko¬munikatif.
Dalam historiografi modern (sejarah kritis), seorang sejarawan yang piawai tidak lagi terpaku ke¬pada bentuk penulisan yang naratif atau deskriptif, tetapi de¬ngan multidimensionalnya le¬bih mengarah kepada bentuk yang analitis karena dirasakan lebih scientific dan mempunyai kemampuan memberi kete¬rangan yang lebih unggul diban¬dingkan dengan apa yang ditampilkan oleh sejarawan konvensio¬nal dengan sejarah naratifnya.(copyright©wajidi).

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuna” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan yang panjang. Di antaranya adalah yang disebut dengan paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, maka ilmu ini termasuk ke dalam kelompok ilmu humaniora. Meskipun demikian, terdapat berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain sejarah, antropologi, geologi (dengan ilmu tentang lapisan pembentuk bumi yang menjadi acuan relatif umur suatu temuan arkeologis), geografi, arsitektur, paleoantropologi dan bioantropologi, fisika (antara lain dengan karbon c-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak), ilmu metalurgi (untuk mendapatkan unsur-unsur suatu benda logam), serta filologi (mempelajari naskah lama).
Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metoda pengukuran karbon 14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba, meneliti DNAnya.
Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture).
Karena bergantung pada benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi (Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).
Ikonografi adalah cabang sejarah seni yang mempelajari identifikasi, deskripsi dan interpretasi isi gambar. Kata ikonografi berarti “penulisan gambar”, dan berasam dari Yunani Kuno, εικον (gambar) dan γραφειν (menulis).
Paleografi (Yunani παλαιός palaiós, “kuno” dan γράφειν graphein, “menulis”) adalah ilmu yang meneliti perkembangan bentuk tulisan atau tulisan kuno.
Paleografi dalam banyak kasus merupakan prasyaratan untuk mendalami filologi atau ilmu kebukuan.
Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Epigrafi adalah suatu cabang arkeologi yang berusaha meneliti benda-benda bertulis yang berasal dari masa lampau. Salah satu contohnya adalah prasasti. Prasasti merupakan sumber bukti tertulis (berupa tulisan ataupun gambar) pada masa lampau yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa dimasa lampau, asal-usul seorang raja atau tokoh atau genealogi maupun penanggalan.
Tujuan arkeologi adalah merekonstruksi sejarah masa lampau berdasarkan apa yang dapat ditemukan kembali dengan ketrampilan dan penguasaan metode ekskavasi pada benda-benda masa lampau. Jika benda tinggalan tersebut berupa prasasti maka ahli epigrafi akan mengelolanya agar dapat diketahui kapan terjadinya, siapa tokoh pemerintahannya serta apa isi yang terkandung pada prasasti tersebut.Ahli epigrafi mempunyai kemampuan menganalisis prasasti dengan kemampuannya untuk membaca tulisan kuno, baik berupa huruf kuno maupun bahasa kuno.
Tugas seorang ahli epigrafi sekarang ini tidak saja meneliti prasasti-prasasti yang belum di publikasikan melainkan juga meneliti kembali prasasti yang baru terbit dalam transkripsi sementara. Kemudian ahli epigrafi tersebut harus menterjemahkan prasasti itu ke dalam bahasa yang digunakan saat ini sehingga para peneliti lain, khususnya ahli-ahli sejarah dapat menggunakan berbagai macam keterangan yang terkandung di dalam prasasti-prasasti itu.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, ahli epigrafi banyak menjumpai berbagai macam hambatan. Menurut arkeolog Indonesia yang menekuni bidang epigrafi yaitu Drs.Hasan Djafar, masalah yang pertama adalah karena banyak prasasti terutama prasasti batu, yang sudah demikian usang sehingga sulit untuk membacanya. Ia harus membaca bagian-bagian yang usang tersebut berkali-kali sampai mendapatkan pembacaan yang memuaskan. Dengan menguasai bentuk huruf kuno dengan segala lekuk likunya, dan dengan senantiasa membanding-bandingkan huruf-hurufnya yang usang itu dengan huruf-huruf yang masih jelas, seorang ahli epigrafi berusaha untuk memperoleh pembacaan yang selengkap-lengkapnya. Kedua, dihadapkan pada waktu menterjemahkan prasasti-prasasti itu. Pengetahuan mengenai bahasa-bahasa kuno yang digunakan dalam prasasti masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya makna yang terkandung di dalam naskah-naskah itu.
Ahli epigrafi bak detektif yang mencari tahu mengenai kehidupan maupun peristiwa masa lampau melalui kode-kode rahasia berupa huruf maupun gambar melalui kemampuannya dalam menganalisis. Sehingga masyarakat, khususnya ahli sejarah dan arkeologi, mendapatkan informasi sejarah yang jelas dan valid. Seorang ahli epigrafi dibutuhkan dalam memecahkan sebuah catatan sejarah yang ditulis oleh masyarakat masa lampau agar dapat dimengerti oleh masyarakat saat ini.
Numismatik (bahasa Latin: numisma, nomisma, “koin”; dari bahasa Yunani: νομίζειν nomízein, “menggunakan sesuai hukum”) adalah sebuah studi atau kegiatan mengumpulkan mata uang, termasuk koin, token, uang kertas, dan benda-benda terkait lainnya. Koleksi numismatik terdiri dari benda-benda kuno seperti uang kertas, koin dan token yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat. Numismatik mempelajari antara lain, sejarah mata uang itu sendiri, cara pembuatannya, ciri-cirinya, variasi yang ditemukan, pemalsuannya, sejarah politik terbentuknya mata uang tersebut dsb.
Untuk info numismatik lebih lanjut klik blog Uang Kuno
Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Bidang studi yang mempelajari folklor disebut folkloristika. Istilah filklor berasal dari bahasa Inggris, folklore, yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846.[1] Folklor berkaitan erat dengan mitologi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: